• L3

Sunday, 16 June 2013

Sahabat & Kemunafikan

Beberapa orang memang sering kali berpura-pura baik bak malaikat padahal pengkhianat.

Beberapa orang pula seringkali cuek, acuh tak acuh, tapi pada akhirnya justru orang-orang seperti itulah yang sangat memperhatikanmu dan ada saat kamu butuh.

Buat kalian yang punya sahabat, selamat ya. kalian sudah menemukan sandaran hidup. Sahabat memang sejatinya sandaran hidup. Bukan hanya tempat kita untuk sekedar bersandar atau membuang uneg-uneg di hati. tapi juga SALING menampung keluh kesah dan kebahagiaan satu sama lain.

Kata orang, sahabat itu
bagaikan satu jiwa dalam raga yang berbeda. Kalimat yang bagus yah. Tapi sayang, yang aku rasain ngga sebagus kalimat itu. seringkali aku ketipu. Entah dalam urusan apapun. Emang sih, aku yang salah kurang hati-hati ataupun teliti memilih teman. eh, sejak kapan ya kita harus memilih teman?

Sebenernya, temen yang aku maksud itu sahabat. Tepatnya, seseorang yang mengaku sebagai sahabatku. Awalnya emang aku sempet ragu. Begini ya yang namanya persahabatan. Awalnya indah, emang. Aku berusaha selalu ada waktu dia butuh. Aku selalu memasang telinga ketika dia bercerita. Tapi, ternyata, beberapa waktu semenjak terikrarkan kata sahabat di antara kita, ada rasa kecewa yang mengganjal di hati. dia selalu ngga ada waktu aku butuh. Bukankah katanya, teori sahabat itu “Selalu ada dan saling melengkapi”, ya?

Permulaan memang selalu manis. Seperti kopi yang berampas. Pada sisa tetes kopi terakhir, semuanya hanya tersisa ampas yang tak lagi manis. Bahkan, pahit. Mereka semua yang ngaku-ngaku sahabatku pergi. Seperti ngga punya hati. justru orang-orang yang datang ketika aku butuh adalah orang-orang yang selama ini cuek sama aku dan aku anggap sombong. Mereka tanpa pamrih mengulurkan tangannya, menarikku dari jurang masalah.

Semenjak itu aku sadar. Ternyata, tak semua orang yang mengaku-mengaku menjadi sahabat kita, itu sahabat kita. bisa saja, mereka adalah sahabat yang suka berkhianat. Atau mungkin, semua orang yang mereka temuin dianggap sahabat? Entahlah!

Memang, beberapa orang ada yang ngga beruntung karena ngga bisa ngerasain manisnya persahabatan, termasuk aku. Kejadian ini nyadarin aku satu hal, “Jangan sekali-sekali mudah mempercayakan segalanya kepada seseorang yang ngaku sebagai sahabatmu sejatinya, sahabat ngga pernah ingin diakui atau diberi penghargaan lebih. Ia hanya selalu berusaha menunjukkan kesetiaannya, tanpa suara, melainkan dengan hati dan jiwa. Sahabat adalah mereka yang diam-diam selalu berusaha ada untukmu meski kamu tak pernah menyadarinya. Sahabat mungkin saat ini ada di sekitarmu, tapi hanya turut tersenyum bahagia ketika kamu terbawa. Lalu, buru-buru menarik tanganmu ketika kamu hendak terjerumus dari masalah.




Dari Beberapa Sumber..

Relasi Terpenting Dalam Hidup

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqEk7IButDNy-O0UyYgbHyTXjA28P71B8MRfhNoMfUPPTBEScl1NgvRVoMzhMEq0IDQDkzOmuAC1EZe3gYLObTo9ofyTpTzbzwMiYKv9_B_T14kGBI1BYJVfx0W1CRiccVSYJXUdDkFfw/s320/url.jpg

                Manusia adalah makhluk sosial, dia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Oleh karena itu manusia perlu untuk berinteraksi dengan orang yang ada di sekitarnya. Dan dari interaksi yang telah dilakukan pasti akan menimbulkan suatu relasi yang dekat. Relasi-relasi itulah yang nantinya akan berpengaruh dalam kehidupan setiap individu, entah dalam pemenuhan kebutuhan maupun dalam pembentukan karakter. Menurut saya dan beberapa teman saya, ada tiga relasi terpenting di dalam hidup kami, yaitu orang tua, teman, serta kakak atau adik.
                Pertama, orang tua, merupakan sumber dari “secure attachment”  yang senantiasa memberikan rasa aman dan nyaman. Tanpa mereka, kita tidak akan ada di dunia ini. Orang tua juga merupakan media sosialisasi primer dalam kehidupan setiap individu, dimana karakter dasar seseorang akan terbentuk di dalamnya. Adapun kebutuhan yang kita dapat dari orang tua adalah mencakup kebutuhan fisik berupa ditimang, dibelai, dipeluk, dan lain-lain. Kemudian kebutuhan ekonomi, seperti misalnya biaya pendidikan. Dan yang terakhir adalah kebutuhan psikologis, contohnya adalah pemberian pujian saat kita berhasil melakukan sesuatu yang diharapkan.
                Kedua, teman, dengan adanya teman maka kita dapat belajar untuk bersosialisasi dengan orang lain di luar lingkungan keluarga. Teman juga dapat dijadikan tempat untuk berbagi curahan hati (curhat) selain keluarga, karena terkadang ada suatu hal yang tidak dapat kita ceritakan pada keluarga, entah mungkin karena gengsi atau malu. Di dalam lingkungan pertemanan, kita juga dapat belajar untuk lebih mengembangkan diri dalam hal berinteraksi dengan orang lain, bekerja sama,  serta dalam hal mengembangkan minat dan bakat. Tentunya dalam sebuah pertemanan, kita pun memiliki kebutuhan untuk diakui di dalamnya. Dan sebagai timbal baliknya, kita harus mampu untuk beradaptasi dalam lingkungan pertemanan tersebut agar kehadiran kita dapat diterima.
                Ketiga, kakak atau adik. Mereka memiliki relasi yang dekat dengan kita karena mereka merupakan bagian dari anggota keluarga kita. Kehadiran mereka membuat kita belajar untuk saling menyayangi, peduli, menghargai, tolong-menolong, dan melindungi satu sama lain. Kakak atau adik juga merupakan pelengkap di dalam rumah agar kita tidak merasa sepi.
                Di sisi lain, selain tiga relasi penting atau utama yang telah saya sebutkan di atas, ada satu lagi relasi yang kita miliki di dalam hidup, yaitu “love”. Cinta merupakan sesuatu yang abstrak, dia tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan. Setiap orang pada saatnya pasti akan mengalami sebuah ketertarikan (attraction) atau rasa cinta pada lawan jenisnya. Bagaimana penampilan fisik mempengaruhi ketertarikan?. Pada dasarnya hampir setiap orang mendambakan pasangan yang tampan atau cantik. Sebuah ketertarikan juga dapat muncul apabila kita melihat orang yang rapi dan bersih. Seperti kata pepatah, “dari mata turun ke hati”. Lalu, penampilan fisik juga merupakan cerminan dari personality seseorang. Apabila penampilan fisik seseorang terlihat baik dan terawat, maka seperti itu pula lah jiwanya, sehingga tidak heran jika hal tersebut dapat menimbulkan suatu ketertarikan bagi yang melihatnya.
                Dalam sebuah hasil penelitian, dikatakan bahwa sebuah kesamaan yang dimiliki oleh seseorang dengan orang lain lebih dapat memicu adanya ketertarikan satu sama lain. Misalnya jika kita memiliki hobi yang sama dengan seseorang, maka saat kita berbagi cerita dengannya kita akan merasa cocok, kita pasti akan menikmati setiap bagian dari percakapan yang kita lakukan dengannya, sehingga rasa tertarikpun secara disadari maupun tidak disadari akan ada dengan sendirinya. Namun di sisi lain  tidak dipungkiri juga jika suatu perbedaan dapat menimbulkan sebuah ketertarikan. Karena ada sebagian asumsi bahwa dengan adanya perbedaan maka kita dapat saling melengkapi satu sama lain, dan juga perbedaan menunjukkan karakteristik yang unik dari setiap individu, sehingga hal tersebut juga mampu menghadirkan suatu ketertarikan.
                Setiap orang pasti memiliki kriteria atau harapan yang ideal mengenai orang yang disukai, dan berharap agar bisa mendapatkan seseorang yang sesuai dengan kriterianya. Namun, di samping berharap pastinya orang tersebut akan berusaha pula untuk mencari serta mendapatkan seseorang yang sesuai dengan kriterianya tersebut. Contohnya, saya menyukai orang yang rapi dan bersih. Suatu hari saya melihat ada seseorang yang seperti itu lewat di depan saya. Hal tersebut terjadi berkali-kali dalam hari yang berbeda, namun tetap dengan orang yang sama. Lama-lama tanpa dapat ditampik, saya pasti akan merasa tertarik pada orang tersebut karena dia sesuai dengan kriteria yang saya inginkan. Hal ini karena setiap orang pasti menginginkan hal yang ideal atau hal yang terbaik dalam hidupnya.
Lantas, apakah ketertarikan dapat muncul ketika orang lain lebih dahulu menyukai kita?. Menurut saya dan beberapa teman saya, jawabannya adalah dapat. Karena pada umumnya seseorang yang menyukai kita pasti akan melakukan berbagai macam hal guna menarik perhatian kita. Hal tersebut dapat terlihat pada hal-hal kecil seperti misalnya dia menanyakan apakah kita sudah makan atau belum, atau mungkin menyuruh kita untuk beristirahat setelah melakukan aktivitas yang melelahkan. Jika hal tersebut terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk dapat tertarik pada orang tersebut, karena kita merasa bahwa ada seseorang yang senantiasa memperhatikan dan memperlakukan kita dengan istimewa. Semua hal di dunia ini bisa saja terjadi karena terbiasa, seperti halnya cinta.  Dalam istilah jawanya, “witing tresno jalaran soko kulino”.
Begitulah hidup, segala yang ada di dalamnya memiliki peran dan fungsi masing-masing. Kita tidak akan memiliki kehidupan yang berwarna jika hanya memiliki relasi dengan orang tua saja, dengan teman saja, maupun dengan kakak atau adik saja. Semuanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Dan lagi, yang juga kita butuhkan adalah cinta, cinta terhadap orang lain yang spesial di hati kita. Hal-hal tersebut tentunya memberikan makna masing-masing di dalam kehidupan kita.



Dari Beberapa Sumber...