• L3

Wednesday, 10 December 2014

Impian-Impian


Sebagaian mahasiswa hidup tanpa impian. Kuliah hanya sekedar kuliah. Bagi yang tak punya impian, kehidupannya tampak menyenangkan tak ada kerut di kening, tak ada masalah sama sekali. Pergi kuliah tanpa persiapan, pulang kuliah pun tanpa beban. Semua berjalan begitu enteng, tanpa ada apa-apa.

Bila termaksud golongan ini, segeralah bayangkan apa jadinya kamu 5 tahun kedepan. Bayangkanlah kamu pulang ke rumah dengan gelar sarjana dan apa yang dapat kamu buktikan kepada orangtuamu?

Impian adalah awal dari segalanya. Semua yang kita miliki bermula dari mimpi, dari keinginan, "Kalau saja saya... ." Tak pernah dibayangkan bahwa ada manusia tanpa mimpi seperti ini. Maka bermimpilah, rumuskan mana keinginanmu yang paling kuat. Biar kamu tambah yakin dalam merumuskan mimpi, berikut ini ada uraian mengenai beberapa mimpi

Impian memberi kita arah, Pernahkah ada orang sukses yang tidak didahului oleh mimpi atau keinginan? Tak pernah. Kita semua membutuhkan sesuatu yang akan kita tuju, itulah impian. Impian dengan demikian dapat berfungsi sebagai kompas. Ia memberi kita arah ke mana kita bisa melangkah dan mengukur seberapa jauh kemajuan yang telah kita capai, atau seberapa mundur kita dari impian itu. Tanpa impian, apa yang kita tuju itu mustahil bisa bergerak.
 
Impian meningkatkan potensi, Setelah melangkah dituntut oleh impian, kamu pun akan dikondisikan untuk meningkatkan potensi-potensi yang dapat mendukung tujuan itu. Mulanya, mungkin kamu tidak begitu berani melewati tempat gelap. Namun karena ada keinginan kuat untuk sampai di ujung sana, kamu mengumpulkan keberanian untuk melewati kuburan gelap. Bila kamu berhasil, satu potensimu telah muncul, yaitu berani. Bila kamu tak memiliki potensi apa-apa, cobalah membuat sebuah mimpi. Melalui mimpi itu, kamu akan terdorong untuk melatih apa pun yang  mungkin kamu miliki walaupun sebenarnya tak ada seorang pun gang tanpa potensi. Semuanya sama ciptaan Tuhan yang Adil. Jadi, pastilah pada semuanya diberikan potensi untuk seorang manusia yang hebat.



Impian membantu kita menentukan prioritas, Kalau bermimpi ingin menjadi penyanyi, kamu akan lebih memilih latihan vokal ketimbang menonton film. Kalau bermimpi menjadi bintang film, niscaya kamu akan memilih latihan akting ketimbang menonton realiti gosip di tv. Ini jelas menunjukkan bahwa melalui mimpi yang kuat, kamu bisa menentukan pilihan kamu. Jadi, bila kamu begitu pling-plang, gampang menyerah pada keadaan; itu menandakan bahwa kamu benar-benar hidup tanpa mimpi. 


Impian itu meramalkan masa depan, Ini sebenarnya sudah jelas. Impian yang kamu upayakan dengan sangat sungguh-sungguh niscaya akan menyusun masa depanmu. Masa depan kamu memang bergantung pada mimpi yang kamu perjuangkan. Tanpa mimpi, kamu tak akan bisa bergerak. Ini berarti, kamu akan menetap pada masa sekarang.

Saturday, 6 December 2014

BUKAN GALAU TAPI JENUH


Kita selalu punya seseorang yang dekat dengan kita, bahkan sudah seperti keluarga. Kita juga pernah punya seseorang yang tak pernah senang terhadap kita, aku tak tahu bagaimana menyebut golongan ini.

            Ketika beberapa orang tak menghargai apa yang kamu lakukan, ketika beberapa orang hanya tahu keburukanmu lewat apa yang orang lain katakan, ketika beberapa orang menganggap remeh apa yang kamu perbuat, ketika beberapa orang tak ingin melihatmu bahkan hanya sekedar melirikmu. Bolehkah aku merasa kesal pada mereka ketika itu?

         Bukan galau, tapi jenuh, Jenuh berada di lingkaran yang sama yang dipenuhi orang-orang egois berotak dangkal yang mau didengar tapi gak mau mendengar. Mau dimengerti tapi gak mau ngerti.

            Bukan galau, tapi jenuh. Beberapa orang hanya tahu sisi buruk dari dirimu, tapi mereka tak pernah tahu apa yang kamu perjuangkan atas kebaikan mereka. Pantaskah mereka membencimu?

            Bukan galau, tapi jenuh. Bolehkah aku sekali saja untuk tidak tersenyum melihat orang-orang yang bahkan tidak pernah tersenyum kepadaku?

            Bukan galau, tapi jenuh. Bagaimana rasanya disishkan? Apa itu sakit? Bagaimana rasanya tak pernah dianggap? Apa kamu suka? Bagaimana rasanya ketika kamu berbicara tapi tak seorangpun peduli? Apa kamu tahu? Untuk semua pertanyaan itu, cukupkah dengan menangis aku menjawabnya? Tak ada lagi kata yang pantas aku ucapkan untuk beberapa orang yang memperlakukan aku demikian.

            Bukan galau, tapi jenuh. Bagaimana aku menceritakan pada orang lain apa yang terjadi padaku saat ini. Jika ditanya, apa aku benci mereka? Apa aku akan  melakukan hal yang sama atas apa yang telah mereka lakukan padaku? Tidak, aku tidak sejahat itu. Tapi aku akan ingat sampai kapanpun. Aku tahu bagaimana sakitnya, aku mengerti bagaimana kecewa, aku paham atas apa yang tak mungkin aku jelaskan.

            Bukan galau, tapi jenuh. Aku sangat jenuh karena selalu berada diposisi ini. Aku sangat jenuh mengalami hal ini. Aku jenuh, bukan galau.