Kita selalu punya seseorang yang dekat dengan kita, bahkan sudah seperti keluarga. Kita juga pernah punya seseorang yang tak pernah senang terhadap kita, aku tak tahu bagaimana menyebut golongan ini.
Ketika beberapa orang tak menghargai apa yang kamu lakukan, ketika beberapa orang hanya tahu keburukanmu lewat apa yang orang lain katakan, ketika beberapa orang menganggap remeh apa yang kamu perbuat, ketika beberapa orang tak ingin melihatmu bahkan hanya sekedar melirikmu. Bolehkah aku merasa kesal pada mereka ketika itu?
Bukan galau, tapi jenuh, Jenuh berada di lingkaran yang sama yang dipenuhi orang-orang egois berotak dangkal yang mau didengar tapi gak mau mendengar. Mau dimengerti tapi gak mau ngerti.
Bukan galau, tapi jenuh. Beberapa orang hanya tahu sisi buruk dari dirimu, tapi mereka tak pernah tahu apa yang kamu perjuangkan atas kebaikan mereka. Pantaskah mereka membencimu?
Bukan galau, tapi jenuh. Bolehkah aku sekali saja untuk tidak tersenyum melihat orang-orang yang bahkan tidak pernah tersenyum kepadaku?
Bukan galau, tapi jenuh. Bagaimana rasanya disishkan? Apa itu sakit? Bagaimana rasanya tak pernah dianggap? Apa kamu suka? Bagaimana rasanya ketika kamu berbicara tapi tak seorangpun peduli? Apa kamu tahu? Untuk semua pertanyaan itu, cukupkah dengan menangis aku menjawabnya? Tak ada lagi kata yang pantas aku ucapkan untuk beberapa orang yang memperlakukan aku demikian.
Bukan galau, tapi jenuh. Bagaimana aku menceritakan pada orang lain apa yang terjadi padaku saat ini. Jika ditanya, apa aku benci mereka? Apa aku akan melakukan hal yang sama atas apa yang telah mereka lakukan padaku? Tidak, aku tidak sejahat itu. Tapi aku akan ingat sampai kapanpun. Aku tahu bagaimana sakitnya, aku mengerti bagaimana kecewa, aku paham atas apa yang tak mungkin aku jelaskan.
Bukan galau, tapi jenuh. Aku sangat jenuh karena selalu berada diposisi ini. Aku sangat jenuh mengalami hal ini. Aku jenuh, bukan galau.
Bukan galau, tapi jenuh. Beberapa orang hanya tahu sisi buruk dari dirimu, tapi mereka tak pernah tahu apa yang kamu perjuangkan atas kebaikan mereka. Pantaskah mereka membencimu?
Bukan galau, tapi jenuh. Bolehkah aku sekali saja untuk tidak tersenyum melihat orang-orang yang bahkan tidak pernah tersenyum kepadaku?
Bukan galau, tapi jenuh. Bagaimana rasanya disishkan? Apa itu sakit? Bagaimana rasanya tak pernah dianggap? Apa kamu suka? Bagaimana rasanya ketika kamu berbicara tapi tak seorangpun peduli? Apa kamu tahu? Untuk semua pertanyaan itu, cukupkah dengan menangis aku menjawabnya? Tak ada lagi kata yang pantas aku ucapkan untuk beberapa orang yang memperlakukan aku demikian.
Bukan galau, tapi jenuh. Bagaimana aku menceritakan pada orang lain apa yang terjadi padaku saat ini. Jika ditanya, apa aku benci mereka? Apa aku akan melakukan hal yang sama atas apa yang telah mereka lakukan padaku? Tidak, aku tidak sejahat itu. Tapi aku akan ingat sampai kapanpun. Aku tahu bagaimana sakitnya, aku mengerti bagaimana kecewa, aku paham atas apa yang tak mungkin aku jelaskan.
Bukan galau, tapi jenuh. Aku sangat jenuh karena selalu berada diposisi ini. Aku sangat jenuh mengalami hal ini. Aku jenuh, bukan galau.


No comments:
Post a Comment