• L3

Wednesday, 4 November 2015

Kata "Maaf"

“Maaf”, kata berjumlah huruf 4 ini sebenarnya mudah diucapkan. Logika melakukannya juga sederhana, ketika kita melakukan kesalahan dan menyesal, kita meminta maaf. Bahkan ada yang memberi bukti nyata seolah ada alasan tertentu kenapa melakukan suatu kesalahan. Pada kenyataannya, ada yang sulit atau gengsi untuk menyatakan dirinya bersalah karena ego lebih penting daripada relasi yang sedang dijalin.

Tidak dipungkiri, mengucapkan maaf saja itu sebenarnya tidak cukup, sebagus apapun caranya, sesempurna apapun pelaksanaannya, karena akibat dari kesalahan itu tetap berlangsung, tetap sudah terjadi. Ibarat menulis dengan menggunakan pulpen, tulisan yang tercetak tidak dapat dihapus, meskipun sudah menggunakan penghapus yang “katanya” mampu menghapus tapi malah dengan sukses membuat lubang di kertas. Dengan mengucapkan “saya minta maaf” atau “i’m sorry”, bukan berarti yang telah terjadi dengan mudah ditimpa menggunakan correction tape atau lebih terkenal dengan sebutan tipe-x.

Remidial, perbaikan, atau ulangan ulang pasti pernah kan mengalami itu?
Sebagai contoh dulu sewaktu duduk di bangku sekolah atau kuliah. Saat mendapat nilai jelek atau tidak lulus mata pelajaran tertentu, kita diberi kesempatan remidial untuk mencapai nilai standar minimum yang menandakan lulus dari mata pelajaran itu.

Memang dengan meminta maaf saja, itu akan menurunkan ketegangan.
Yang jadi pertanyaan, setelah itu apa?
Apakah setelah “maaf” semua kembali seperti biasa seolah tidak ada kejadian apapun seperti menggunakan tipe-x itu?
Atau lebih baik membenahi diri sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama lagi ?
Atau lebih “nyaman” dengan siklus melakukan kesalahan-meminta maaf ini kesalahanku-melakukan kesalahan-meminta maaf ini kesalahanku ?

"Meminta maaf itu perlu, namun apa yang dilakukan setelah kata maaf terucap itu lebih penting."

Hidup yang Berkualitas

Hidup yang berkualitas berarti memiliki tubuh, pikiran dan jiwa yang sehat. Untuk mencapai, diperlukan pemahaman , disiplin, dan upaya yang berorientasi pada proses, bukan hasil akhir.

Sistem pedidikan yang berlaku umum di Indonesia pada saat ini berorientasi pada hasil akhir pembelajaran, bukan pada proses belajar itu sendiri. Hal yang ingin dicapai adalah hasil akhir berupa prestasi atau nilai tinggi, atau lebih tepatnya gelar atau ijazah! Acuan utamanya adalah hafalan. Para pererta didik di seluruh tingkat formal dituntut untuk mahir menghafal. Itulah parameter kerberhasilan yang saat ini digunakan dalam sistem pendidikan kita. Seseorang yang tidak memiliki kemampuan menghafal cukup baik akan dianggap kurang berhasil dalam proses pndidikan. Ini merupakan vonis berlaku seumur hidup dan berpengaruh besar pada kehidupan kelak. Hafalan dianggap sebagai produk utama yang menunjang keberhasilan seseorang di masa depan. Sudah menjadi semacam hukum tak tertulis di tengah masyarakat bahwa anak yang kurang pandai menghafal dianggap bodoh. Padahal, hafalan merupakan produk mental pada tingkatan terendah yang tergolong primitif. Hal ini dibuktikan dengan berkembangnya teknologi yang kian mampu menggantikan daya hafal manusia, bahkan mengalahkannya. Manusia sekarang sudah hampir tak berdaya bila kecepatannya dalam berhitung diadu dengan kemampuan kalkulator, apalagi dengan komputer yang mampu menyimpan data dalam jumlah besar. Dibanding kemampuan perangkat modern, hafalan manusia tidak ada apa-apanya.
Kualitas kehidupan tidak ditentukan oleh seberapa hebat kita berhitung atau seberapa besar daya hafal otak kita. Kualitas kehidupan diukur dengan hal-hal yang sederhana dan mendasar, misalnya seberapa banyak kita menghakimi orang lain pada hari ini, seberapa sering kita mengucapkan terima kasih, atau seberapa banyak waktu yang kita gunakan menyadari tindakan kita.
Sayangnya, hal-hal seperti itu justru tidak menjadi perhatian kita, bahkan dianggap sepele. Mungkin, demikian pendapat Anda jika melihat parameter kualitas hidup yang saya kemukakan. Namun, berarkah hal-hal di atas sepele dan mudah dilakukan siapa pun, termasuk Anda sendiri? Cobalah lakukan detik ini juga. Cobalah dengan memulai tersenyum pada setiap orang yang Anda jumpai hari ini. Bukankah hal itu sederhana dan mudah dilakukan? Mulailah dengan hal yang paling mudah sebelum Anda belajar melakukan hal-hal yang lebih sulit.

Alasan Sibuk

“Sorry, ga bisa, lagi sibuk nih..”

Sepertinya sibuk sudah menjadi alasan yang super efektif untuk “menghindar” dari hal yang tidak diinginkan. Terbukti dengan “mengkambing hitam”kan kata “sibuk” ini, orang yang menjadi lawan bicara otomatis mau tidak mau akan mengatakan “ya sudah, gak papa, nanti saja” atau dengan variasi kata lain yang isinya aku rapopo, hahahaha..

Bisa saja sedang tidak melakukan apa-apa, namun mengatas-namakan kesibukan agar bisa kabur dari suatu ajakan. Tapi tidak dipungkiri, mungkin memang sedang benar-benar sibuk. Sibuk sudah menjadi suatu hal yang samar-samar, bisa merupakan kepastian atau hanya sebuah ilusi belaka. Bahkan tidur pun bisa menjadi alasan dibalik kata “sibuk”, sedang sibuk untuk tidur misalnya, dengan artian tidak dijabarkan sedang sibuk melakukan apa.

Padahal, semua itu tergantung prioritas, mana yang didahulukan, mana yang lebih mendesak, atau mana yang mempunyai porsi “lebih”. Waktu itu bisa “dicari” selama kita tahu mana yang menjadi “prioritas”.

Monday, 2 November 2015

MASALAH

Masalah, semua orang pasti pernah mengenal dia, baik wujud yang kecil ataupun besar, bahkan mungkin saat ini ada yang sedang bertarung mati-matian melawan dia, atau malah berlari mati-matian untuk menghindari dia. Yang pasti, masalah akan terus ada selama kita ada di dunia.

Masalah dapat dianalogikan sebagai tugas dalam hidup yang sedang menunggu untuk diselesaikan menurut timeline nya masing-masing tergantung kesiapan mental tiap orang untuk mencari jalan keluar dari masalah yang muncul. Timeline tiap orang bisa saja berbeda, ada yang lebih cepat mencapai tingkat masalah berskala besar, ada pula yang masih berkutat dengan masalah-masalah berskala kecil.

Ada masalah yang dapat dengan mudah diselesaikan, bahkan dengan mata tertutup pun bisa. Ada pula masalah yang sangat sulit untuk ditemukan jalan keluar / solusinya, sampai jungkir balik, kaki di kepala dan kepala di kaki tetap tidak menemukan pemecahannya.

Ketika kita berhasil menyelesaikan masalah, kita sebenarnya mendapatkan “cara mencari solusi”. Semakin tinggi level masalahnya, semakin kompleks “cara mencari solusi” yang kita mengerti. Tapi, apakah semua masalah berlevel “tinggi” itu, memerlukan cara yang sedemikian rumit ? dan sebaliknya, apakah masalah yang berlevel “rendah” , tidak membutuhkan cara penyelesaian ? Kenyataannya tidak semuanya memerlukan pemikiran yang kompleks untuk diselesaikan, bahkan hanya semudah  “melihat dengan cara yang berbeda” dengan yang selama ini dilakukan.

Ada satu sifat jelek dari masalah, semakin dihindari, masalah akan semakin besar, dia akan semakin kejam mengejar untuk diselesaikan dan tidak akan berhenti sampai kita menghadapinya face to face.

Bukankah sulit untuk menghadapi masalah yang sedemikian kompleks secara face to face ?
Tidak ada yang mengatakan semua akan mudah, bahkan akan semakin besar dan menakutkan dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang muncul akibat menunda untuk menyelesaikan.

Masalah apapun, hadapi saja, itu sebagian dari proses mematangkan mental, mendewasakan pikiran, berpikiran terbuka, memperluas sudut pandang kita, dan menjadi pribadi yang lebih baik dari diri kita kemarin.

Lebih baik tidak terfokus terhadap kerasnya atau sulitnya masalah yang dihadapi, fokuslah untuk mencari solusi dan pemecahan masalah, pasti ada cara lain, tidak mungkin ada masalah tanpa ada jalan untuk menyelesaikannya, bahkan bisa saja cara yang sudah ada selama ini namun kita terlalu “buta” untuk melihat cara itu karena berpikir terlalu “kompleks” tanpa melihat sudut pandang yang berbeda.
Ingat, ketika kita berada di dalam kegelapan, jangan menyalahkan kenapa kegelapan itu ada.
Jika tidak menyukai gelap, carilah lampu.
Jika tidak ada lampu, nyalakanlah lilin.
Jika tidak ada lilin, carilah sumber cahaya lain.
Bahkan jika tidak ada sumber cahaya, lihatlah ke langit, bintang akan tetap menjadi kompasmu.
Semua kemungkinan, semua jalan keluar, semuanya ada dan tersedia, hanya, apakah kita mampu melihat kemungkinan penyelesaian itu ?