“Maaf”, kata berjumlah huruf 4 ini sebenarnya mudah diucapkan. Logika melakukannya juga sederhana, ketika kita melakukan kesalahan dan menyesal, kita meminta maaf. Bahkan ada yang memberi bukti nyata seolah ada alasan tertentu kenapa melakukan suatu kesalahan. Pada kenyataannya, ada yang sulit atau gengsi untuk menyatakan dirinya bersalah karena ego lebih penting daripada relasi yang sedang dijalin.
Tidak dipungkiri, mengucapkan maaf saja itu sebenarnya tidak cukup, sebagus apapun caranya, sesempurna apapun pelaksanaannya, karena akibat dari kesalahan itu tetap berlangsung, tetap sudah terjadi. Ibarat menulis dengan menggunakan pulpen, tulisan yang tercetak tidak dapat dihapus, meskipun sudah menggunakan penghapus yang “katanya” mampu menghapus tapi malah dengan sukses membuat lubang di kertas. Dengan mengucapkan “saya minta maaf” atau “i’m sorry”, bukan berarti yang telah terjadi dengan mudah ditimpa menggunakan correction tape atau lebih terkenal dengan sebutan tipe-x.
Remidial, perbaikan, atau ulangan ulang pasti pernah kan mengalami itu?
Sebagai contoh dulu sewaktu duduk di bangku sekolah atau kuliah. Saat mendapat nilai jelek atau tidak lulus mata pelajaran tertentu, kita diberi kesempatan remidial untuk mencapai nilai standar minimum yang menandakan lulus dari mata pelajaran itu.
Sebagai contoh dulu sewaktu duduk di bangku sekolah atau kuliah. Saat mendapat nilai jelek atau tidak lulus mata pelajaran tertentu, kita diberi kesempatan remidial untuk mencapai nilai standar minimum yang menandakan lulus dari mata pelajaran itu.
Memang dengan meminta maaf saja, itu akan menurunkan ketegangan.
Yang jadi pertanyaan, setelah itu apa?
Apakah setelah “maaf” semua kembali seperti biasa seolah tidak ada kejadian apapun seperti menggunakan tipe-x itu?
Atau lebih baik membenahi diri sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama lagi ?
Atau lebih “nyaman” dengan siklus melakukan kesalahan-meminta maaf ini kesalahanku-melakukan kesalahan-meminta maaf ini kesalahanku ?
Yang jadi pertanyaan, setelah itu apa?
Apakah setelah “maaf” semua kembali seperti biasa seolah tidak ada kejadian apapun seperti menggunakan tipe-x itu?
Atau lebih baik membenahi diri sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama lagi ?
Atau lebih “nyaman” dengan siklus melakukan kesalahan-meminta maaf ini kesalahanku-melakukan kesalahan-meminta maaf ini kesalahanku ?
"Meminta maaf itu perlu, namun apa yang dilakukan setelah kata maaf terucap itu lebih penting."

No comments:
Post a Comment