Hidup yang berkualitas berarti
memiliki tubuh, pikiran dan jiwa yang sehat. Untuk mencapai, diperlukan
pemahaman , disiplin, dan upaya yang berorientasi pada proses, bukan hasil
akhir.
Sistem pedidikan yang berlaku
umum di Indonesia pada saat ini berorientasi pada hasil akhir pembelajaran,
bukan pada proses belajar itu sendiri. Hal yang ingin dicapai adalah hasil
akhir berupa prestasi atau nilai tinggi, atau lebih tepatnya gelar atau ijazah!
Acuan utamanya adalah hafalan. Para pererta didik di seluruh tingkat formal
dituntut untuk mahir menghafal. Itulah parameter kerberhasilan yang saat ini
digunakan dalam sistem pendidikan kita. Seseorang yang tidak memiliki kemampuan
menghafal cukup baik akan dianggap kurang berhasil dalam proses pndidikan. Ini
merupakan vonis berlaku seumur hidup dan berpengaruh besar pada kehidupan
kelak. Hafalan dianggap sebagai produk utama yang menunjang keberhasilan
seseorang di masa depan. Sudah menjadi semacam hukum tak tertulis di tengah
masyarakat bahwa anak yang kurang pandai menghafal dianggap bodoh. Padahal,
hafalan merupakan produk mental pada tingkatan terendah yang tergolong
primitif. Hal ini dibuktikan dengan berkembangnya teknologi yang kian mampu
menggantikan daya hafal manusia, bahkan mengalahkannya. Manusia sekarang sudah
hampir tak berdaya bila kecepatannya dalam berhitung diadu dengan kemampuan
kalkulator, apalagi dengan komputer yang mampu menyimpan data dalam jumlah
besar. Dibanding kemampuan perangkat modern, hafalan manusia tidak ada
apa-apanya.
Kualitas kehidupan tidak ditentukan oleh seberapa hebat kita berhitung atau seberapa besar daya hafal otak kita. Kualitas kehidupan diukur dengan hal-hal yang sederhana dan mendasar, misalnya seberapa banyak kita menghakimi orang lain pada hari ini, seberapa sering kita mengucapkan terima kasih, atau seberapa banyak waktu yang kita gunakan menyadari tindakan kita.
Sayangnya, hal-hal seperti itu
justru tidak menjadi perhatian kita, bahkan dianggap sepele. Mungkin, demikian
pendapat Anda jika melihat parameter kualitas hidup yang saya kemukakan. Namun,
berarkah hal-hal di atas sepele dan mudah dilakukan siapa pun, termasuk Anda
sendiri? Cobalah lakukan detik ini juga. Cobalah dengan memulai tersenyum pada
setiap orang yang Anda jumpai hari ini. Bukankah hal itu sederhana dan mudah
dilakukan? Mulailah dengan hal yang paling mudah sebelum Anda belajar melakukan
hal-hal yang lebih sulit.

No comments:
Post a Comment