Beberapa orang pula
seringkali cuek, acuh tak acuh, tapi pada akhirnya justru orang-orang seperti
itulah yang sangat memperhatikanmu dan ada saat kamu butuh.
Buat kalian yang punya
sahabat, selamat ya. kalian sudah menemukan sandaran hidup. Sahabat memang
sejatinya sandaran hidup. Bukan hanya tempat kita untuk sekedar bersandar atau
membuang uneg-uneg di hati. tapi juga SALING menampung keluh kesah dan
kebahagiaan satu sama lain.
Kata orang, sahabat itu
bagaikan satu jiwa dalam raga yang berbeda. Kalimat yang bagus yah. Tapi
sayang, yang aku rasain ngga sebagus kalimat itu. seringkali aku ketipu. Entah
dalam urusan apapun. Emang sih, aku yang salah kurang hati-hati ataupun teliti
memilih teman. eh, sejak kapan ya kita harus memilih teman?
Sebenernya, temen yang
aku maksud itu sahabat. Tepatnya, seseorang yang mengaku sebagai sahabatku.
Awalnya emang aku sempet ragu. Begini ya yang namanya persahabatan. Awalnya
indah, emang. Aku berusaha selalu ada waktu dia butuh. Aku selalu memasang
telinga ketika dia bercerita. Tapi, ternyata, beberapa waktu semenjak terikrarkan
kata sahabat di antara kita, ada rasa kecewa yang mengganjal di hati. dia
selalu ngga ada waktu aku butuh. Bukankah katanya, teori sahabat itu “Selalu
ada dan saling melengkapi”, ya?
Permulaan memang selalu
manis. Seperti kopi yang berampas. Pada sisa tetes kopi terakhir, semuanya
hanya tersisa ampas yang tak lagi manis. Bahkan, pahit. Mereka semua yang
ngaku-ngaku sahabatku pergi. Seperti ngga punya hati. justru orang-orang yang
datang ketika aku butuh adalah orang-orang yang selama ini cuek sama aku dan aku
anggap sombong. Mereka tanpa pamrih mengulurkan tangannya, menarikku dari
jurang masalah.
Semenjak itu aku sadar.
Ternyata, tak semua orang yang mengaku-mengaku menjadi sahabat kita, itu
sahabat kita. bisa saja, mereka adalah sahabat yang suka berkhianat. Atau
mungkin, semua orang yang mereka temuin dianggap sahabat? Entahlah!
Memang, beberapa orang
ada yang ngga beruntung karena ngga bisa ngerasain manisnya persahabatan,
termasuk aku. Kejadian ini nyadarin aku satu hal, “Jangan sekali-sekali mudah
mempercayakan segalanya kepada seseorang yang ngaku sebagai sahabatmu”
sejatinya, sahabat ngga pernah ingin diakui atau diberi penghargaan lebih. Ia
hanya selalu berusaha menunjukkan kesetiaannya, tanpa suara, melainkan dengan
hati dan jiwa. Sahabat adalah mereka yang diam-diam selalu berusaha ada untukmu
meski kamu tak pernah menyadarinya. Sahabat mungkin saat ini ada di sekitarmu,
tapi hanya turut tersenyum bahagia ketika kamu terbawa. Lalu, buru-buru menarik
tanganmu ketika kamu hendak terjerumus dari masalah.
Dari Beberapa Sumber..
Dari Beberapa Sumber..

No comments:
Post a Comment